Arsitektur Roma berbeda dari arsitektur lain yang muncul sebelumnya. Mulai dari Persia, Mesir, Yunani, sampai Etruscan; semuanya memiliki arsitektur monumental. Sebuah bangunan memang harus terlihat mengagumkan ketika dilihat luarnya karena para jamannya, arsitek-arsitek mengandalkan pilar ketika membuat sebuah bangunan. Contohnya adalah Kuil Yunan antik di Paestum, Italia.

Arsitektur Roma berbeda secara fundamentalnya dengan bangunan pada jaman Persia, Mesir dan Yunani karena pada saat itu para arsitek sudah menemukan dan bereksperimen dengan beton, lengkungan, dan kubah. Karena inovasi ini lah orang-orang Roma bisa membuat ruang interior yang sebelumnya belum pernah ditemukan. Orang Roma jadi sangat memperhatikan bentuk-bentuk ruang interior yang menghasilkan isi dari bangunan Roma yang semegah luarnya.

Bahan, Metode, dan Inovasi
Jauh sebelum beton dipakai di bangunan Roma, orang Roma memanfaatkan batu vulkanik dari Italia yang disebut Tufa untuk membuat bangunan. Walaupun Tufa masih digunakan, Travertine mulai dimanfaatkan pada akhir abad ke-2 karena Travertine lebih kuat. Lalu, karena Travertine berwarna putih jadi bisa dipakai sebagai substitusi untuk marmer.

Kemunculan marmer di Roma memang agak terlambat, marmer baru digunakan saat Periode Republik karena marmer terlihat mewah; namun setelah masa pemerintahannya, Augustus mengklaim di prasastinya, yang dikenal dengan nama Res Gestae, bahwa Augustus “menemukan roma sebagai kota penuh bata dan meninggalkannya sebagai kota penuh marmer” mengacu pada kampanye pembangunannya yang ambisius.

Beton Roma berkembang pada abad ke-2 awal. Penggunaan mortir sebagai pengikar di ashlar masonry bukanlah hal yang aneh pada jaman itu; mortis adalah kombinasi sempurna dari pasir, lime dan air. Para kontraktor di Roma yang menggunakan pozzplana (pasir vulkanik dari Italia) bukan pasir biasa menyadari bahwa mortir buatan mereka benar-benar kuat, dan bisa terbentuk di bawah air.

Arsitek Roma
Beberapa arsitek Roma bisa dikenal karena prasasti dedikasi yang tertulis di bangunan yang sudah jadi, biasanya untuk memperingarti orang-orang yang mengerjakan bangunan tersebut. Arsitek akan mendesain bangunan dan bekerja sebagai teknisi juga, dia akan bekerja sebagai kontraktor dan men-supervisi proyek tersebut.

Tipe Bangunan
Kota-kota di Roma lebih fokur kepada forum (plaza terbuka yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan penting), yang merupakan bagian dari kemasayrakataan, keagamaan dan perokonomian dari kota. Biasanya kuil-kuil penting dan tempat beribadah lainnya berada di forum kota. Biasanya di forum juga terdapat basilica (pengadilan hukum), dan tempat pertemuan anggota dewan kota. Pompeii, Italia adalah contoh kota yang memiliki forum yang baik.

Periode Republik
Arsitektur Republik Roma dipengaruhi oleh Etruscan yang merupakan raja awal Roma; dan Etruscan juga dipengaruhi oleh arsitektur Yunani. Kuil Jupiter di bukit Capitoline di Roma yang mulai dibangun pada akhir abad ke-6, memiliki semua keunggulan dari arsitektir Etruscan. Kuil Jupiter menjadi pengaruh pada desain kuil di periode Republik selanjutnya. Pada akhir periode Republik, arsitek mulai bereksperimen dengan beton, menguji materialnya, apakah bisa digunakan untuk membangun dalam skala besar.

Periode Imperial
Kaisar Nero mulai membangun Domus Area atau Rumah Emas setelah api membakar Roma dan menghancurkan banyak area di pusat kota. Kehancuran tersebut membuat Nero mengambil alih perumahan mewah untuk proyek bangunannya sendiri; sebuah villa baru yang luas. Walaupun kebanyakan orang tidak setuju dengan pilihan Nero, tapi keinginan Nero untuk hidup mewah memacu Roma untuk berevolasi dalam hal arsitektur. Para arsiteknya, Severus dan Celer, mulai dikenal dan mereka membangun istana megah yang dilengkapi dengan halaman, ruang makan, tiang-tiang dan air mancur. Mereka juga menggunakan beton, termasuk kubah-kubah di seluruh kompleks. Yang membuat Rumah Emas unik di arsitktur Roma adalah Severus dan Celer menggunakan beton dengan cara baru; mereka tidak menggunakan beton hanya untuk membangun struktur saja, para arsitek mulai bereksperimen dengan beton, seperti membuat ruangan berkubah yang luas.

Source: https://www.khanacademy.org/humanities/ancient-art-civilizations/roman/beginners-guide-rome/a/roman-architecture